Cobalah lihat
Apa yang kamu punya
Tak perlu jauh tak perlu risau
Ini lebih lezat dari fast food
Nasi liwet dan ikan kakap
Bergiji tak terkira
Siapa yang tak mau abadikan cinta
Sampai tua kakek nenek hingga tiada
Bersemi bersama dipupuk alami
Hijau daun sayur segar
Segelas susu yang diperas petani
Potongan daging ternak
Menglahkan sekaleng kelezatan
Jangan kau sia-siakan
Karena itu berarti
Sunday, April 6, 2008
Thursday, March 13, 2008
Apa yang sedang kau lakukan?
Ini merupakan pertanyaan yang sering saya katakan kepada ayah yang sedang mengetik naskah ujian, “apa yang sedang kau lakukan?”
“Apa yang sedang kau lakukan? Menggantikan beruang kutub?”
“Ini tanggal merah. Bolehkan aku istirahat eksra dan aku ingin memilih diam untuk sementara?”
“Boleh saja, tetapi apakah kau tidak mau menikmati kopi yang kuseduh ini?”
“Ah, boleh saja kalau kau memaksaku untuk itu?”
Ia beranjak dari tempat tidur, dilipatnya selimut, ditariknya sprai. Ia menuju kamar mandi. Ia mematut diri depan cermin. Perutnya sudah terlihat maju, pahanya terlihat dilengannya. Buru-buru ia jongkok dan membasuh badannya. Cukup menghabiskan air banyak untuk itu. Badanya kini berbau wangi. Segera ia berpakaian, tak lupa ia semprotkan parfum termahalnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Bersolek seperti banci?
“Tidak, ini adalah rutinitas. Kenapa? Kau terganggu dengan wewangian, atau kau cemburu?”
“Tentu saja tidak. Aku hanya tidak kuat melihat gadis-gadis dekat denganmu.”
“Oh, tentu saja itu namanya cemburu?
“Boleh jadi itu cemburu.”
“Terus apa hubungannya, apakah aku kekasihmu?”
“Bukan…”
Ia duduki kursi yang menghadap jendela. Diambilnya kue lapis legit. Dipotong kecil dengan garpu kecil, ditancap, hap, ia melahapnya dengan penuh kenikmatan.
“Mana kopi yang kau janjikan?”
“Aku sudah membuatnya. Tetapi aku tidak yakin apakah kopi itu senikmat buatanmu.”
“Tentu saja aku tahu itu. Kenikmatan itu masalah selera. Kemiripan itu masalah cara. Tentu saja caraku berbeda dengan caramu. Itu bukan masalah besar, lebih baik cepat kau suguhkan kopi itu.”
Ia kembali memandang jendela. Sesekali dilihatnya wajah-wajah pembeli dan penjual sayuran di depan rumahnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau mau membunuh salah satunya?”
“Tidak.”
“Kopimu. Bukankah kau ingin mencicipinya?”
Ia manarik napas panjang. Pandangannya kini tertuju pada cangkir putih di atas meja. Ia ambil, sesekali ditiup sekenanya. Sruuup. Ia meminum kopi pagi itu. Weak, Weak, ia memuntahkan kopi yang baru saja ia minum dan disimpanya kembali cangkir itu ditempat semula.
“Hey, Apa yang sedang kau lakukan?”
“Goblok. Baru saja aku memuntahkan kopimu.”
Ia memang ingin muntah sejak mengenal dirinya, dan suatu saat nanti ia berencana menyumbat mulutnya biar berhenti berbicara.
***
Angin musim penghujan menikam pori-pori kulit ari. Di luar rumah tetangga sudah mulai bergerak, suaranya gaduh. Sudah pagi memang, tetapi masih ingin berselimut. Hari ini adalah hari peruntukan istirahat. Namun, ada saja orang yang merasa giat untuk bekerja atau hanya sekedar mencari-cari pekerjaan.“Apa yang sedang kau lakukan? Menggantikan beruang kutub?”
“Ini tanggal merah. Bolehkan aku istirahat eksra dan aku ingin memilih diam untuk sementara?”
“Boleh saja, tetapi apakah kau tidak mau menikmati kopi yang kuseduh ini?”
“Ah, boleh saja kalau kau memaksaku untuk itu?”
Ia beranjak dari tempat tidur, dilipatnya selimut, ditariknya sprai. Ia menuju kamar mandi. Ia mematut diri depan cermin. Perutnya sudah terlihat maju, pahanya terlihat dilengannya. Buru-buru ia jongkok dan membasuh badannya. Cukup menghabiskan air banyak untuk itu. Badanya kini berbau wangi. Segera ia berpakaian, tak lupa ia semprotkan parfum termahalnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Bersolek seperti banci?
“Tidak, ini adalah rutinitas. Kenapa? Kau terganggu dengan wewangian, atau kau cemburu?”
“Tentu saja tidak. Aku hanya tidak kuat melihat gadis-gadis dekat denganmu.”
“Oh, tentu saja itu namanya cemburu?
“Boleh jadi itu cemburu.”
“Terus apa hubungannya, apakah aku kekasihmu?”
“Bukan…”
Ia duduki kursi yang menghadap jendela. Diambilnya kue lapis legit. Dipotong kecil dengan garpu kecil, ditancap, hap, ia melahapnya dengan penuh kenikmatan.
“Mana kopi yang kau janjikan?”
“Aku sudah membuatnya. Tetapi aku tidak yakin apakah kopi itu senikmat buatanmu.”
“Tentu saja aku tahu itu. Kenikmatan itu masalah selera. Kemiripan itu masalah cara. Tentu saja caraku berbeda dengan caramu. Itu bukan masalah besar, lebih baik cepat kau suguhkan kopi itu.”
Ia kembali memandang jendela. Sesekali dilihatnya wajah-wajah pembeli dan penjual sayuran di depan rumahnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau mau membunuh salah satunya?”
“Tidak.”
“Kopimu. Bukankah kau ingin mencicipinya?”
Ia manarik napas panjang. Pandangannya kini tertuju pada cangkir putih di atas meja. Ia ambil, sesekali ditiup sekenanya. Sruuup. Ia meminum kopi pagi itu. Weak, Weak, ia memuntahkan kopi yang baru saja ia minum dan disimpanya kembali cangkir itu ditempat semula.
“Hey, Apa yang sedang kau lakukan?”
“Goblok. Baru saja aku memuntahkan kopimu.”
Ia memang ingin muntah sejak mengenal dirinya, dan suatu saat nanti ia berencana menyumbat mulutnya biar berhenti berbicara.
Friday, June 15, 2007
Lupa
Perjalananku adalah perjalanan terjal
penuh liuk diterpa gelombang pasang kota malam
pernah aku merasa kesulitan untuk bernafas
karena kehampaan yang menguak hampir habis dibawa kenyataan
Jakarta, Maret 2007
penuh liuk diterpa gelombang pasang kota malam
pernah aku merasa kesulitan untuk bernafas
karena kehampaan yang menguak hampir habis dibawa kenyataan
Jakarta, Maret 2007
Secangkir kopi dan hari ini aku ingin bercinta
Selamat pagi kekasihku,
kehangatan belum harinya
terjaga dari mimpi percuma untuk dilanjutkan
tersuguh secangkir kopi dan ingatan masa lalu
aku benar-benar ingin bercinta dipagi buta
Selamat terjaga kekasihku,
apakah engkau merasakan pelukan semalam?
siapa dia?
karena sebelum hari baru sudah
aku masih saja di sini
sendiri
tak seorangpun
kehangatan belum harinya
terjaga dari mimpi percuma untuk dilanjutkan
tersuguh secangkir kopi dan ingatan masa lalu
aku benar-benar ingin bercinta dipagi buta
Selamat terjaga kekasihku,
apakah engkau merasakan pelukan semalam?
siapa dia?
karena sebelum hari baru sudah
aku masih saja di sini
sendiri
tak seorangpun
Tuesday, May 1, 2007
Anarkis di Jakarta
Saturday, April 28, 2007
Google Dot Braille
Logo google dot com yang satu ini benar-benar saya suka. Logo yang didedikasikan kepada Louis Braille, penemu "tulisan malam" untuk para Tunanetra. Louis Braille lahir pada tanggal 4 Januari 1808, yang kemudian diperingati secara Internasional sebagai Hari Braille. Untuk mengetahui lebih jauh siapa sosok Louis Braille, klik link Mitra Netra maka akan mengantarkan anda ke sana. Empathy, Respect, and Respect.
Ode Untuk Buah Dada
Seonggok daging tanpa tulang
menyerupai ranum buah-buahan
licin menyebar tepung pada setiap
permukaan
begitu halus
begitu padat
terbekap kain satin yang mengkilat
mengikat pandang menuju ranjang
aku tak berkutik saat memandang
February, 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)



