Sunday, April 6, 2008
Karena Itu Berarti
Apa yang kamu punya
Tak perlu jauh tak perlu risau
Ini lebih lezat dari fast food
Nasi liwet dan ikan kakap
Bergiji tak terkira
Siapa yang tak mau abadikan cinta
Sampai tua kakek nenek hingga tiada
Bersemi bersama dipupuk alami
Hijau daun sayur segar
Segelas susu yang diperas petani
Potongan daging ternak
Menglahkan sekaleng kelezatan
Jangan kau sia-siakan
Karena itu berarti
Monday, March 31, 2008
Jangan Pernah Gantungkan Kariermu pada Speedy
Hal yang sangat menjengkelkan saat kita sedang bekerja dan membutuhkan beberapa literature yang kita perlukan melalui internet. Kemudian napas koneksi internet kembang kepis sekarat, tidak berguna.
Hal tersebut diatas terjadi malam ini, tatkala saya harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang telah memaksa saya begadang semalaman tanpa ada orang yang mau membuatkan secangkir kopi. Sungguh sial, yang tadinya saya targetkan bisa pulang dan beristirahat di rumah, apa lacur saya harus berdiam diri menunggu koneksi internet normal kembali.
Sebelumnya kantor memakai layanan CBN, memang sedikit lambat untuk proses unduh, namun tidak selaknat koneksi Telkom Speedy yang tidak pantas menyandang nama Speedy, sekeong-keongnya barangkali pantas.
Sebelumnya orang kantor telah melaporkan koneksi yang tak stabil ini pada pihak Telkom Speedy. Dengan ramah mereka (pihak Telkom Speedy) mengatakan akan memprosesnya. Namun satu setengah jam telah berlalu, namun koneksi masih tetap bebal. Saya pun ikut serta memencet angka 147, kemudian pilih 1 untuk bahasa
Kembali pada pekerjaan saya, sesekali mememeriksa koneksi, masih belum berubah. Saya tinggal makan untuk sesaat, tak terasa penantian sudah satu jam setengah. Kemudian saya coba lagi internetnya, apa yang terjadi? Masih saja tak ada perubahan. Saya pencet kembali nomor 147 pada telepon, kemuidn pencet 2 untuk bahasa Inggris dan pencet 2 untuk layanan Telkom Speedy. Seseorang operator yang saya enggan mengingat namanya manyapa (tetap ramah) malam ini. Goblok! Ini benar-benar program tidak berguna, operator itu menyapa ramah dengan bahasa
Kemudian, untuk terakhir kali saya mencoba memencet nomor sialan 147 dan seterusnya, seorang operator masih berbicara ramah napi sungguh menyebalkan saat ia menyatakan bahwa telah ada penanganan dan menanyakan apakan ada operator yang mengkonfirmasi pekerjaanya. Padahal saya tak pernah beranjak dari meja yang jelas-jelas teronggok pesawat telepon di meja saya. Dan dengan penuh emosi saya mengatakan bahwa koneksi Telkom Speedy benar-benar berengsek!
Untuk mengingatkan kembali pembaca, saya benar-benar ingin meniru iklan Telkom Speedy yang digambarkan computer, keyboard, mouse, kursi, dll beterbangan. Dan saya ingin sekali menerbangkan kursi yang saya duduki ini pada muka mereka. Mungkin itu sepadan dengan harga kekesalan saya malam ini.
Thursday, March 13, 2008
Apa yang sedang kau lakukan?
“Apa yang sedang kau lakukan? Menggantikan beruang kutub?”
“Ini tanggal merah. Bolehkan aku istirahat eksra dan aku ingin memilih diam untuk sementara?”
“Boleh saja, tetapi apakah kau tidak mau menikmati kopi yang kuseduh ini?”
“Ah, boleh saja kalau kau memaksaku untuk itu?”
Ia beranjak dari tempat tidur, dilipatnya selimut, ditariknya sprai. Ia menuju kamar mandi. Ia mematut diri depan cermin. Perutnya sudah terlihat maju, pahanya terlihat dilengannya. Buru-buru ia jongkok dan membasuh badannya. Cukup menghabiskan air banyak untuk itu. Badanya kini berbau wangi. Segera ia berpakaian, tak lupa ia semprotkan parfum termahalnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Bersolek seperti banci?
“Tidak, ini adalah rutinitas. Kenapa? Kau terganggu dengan wewangian, atau kau cemburu?”
“Tentu saja tidak. Aku hanya tidak kuat melihat gadis-gadis dekat denganmu.”
“Oh, tentu saja itu namanya cemburu?
“Boleh jadi itu cemburu.”
“Terus apa hubungannya, apakah aku kekasihmu?”
“Bukan…”
Ia duduki kursi yang menghadap jendela. Diambilnya kue lapis legit. Dipotong kecil dengan garpu kecil, ditancap, hap, ia melahapnya dengan penuh kenikmatan.
“Mana kopi yang kau janjikan?”
“Aku sudah membuatnya. Tetapi aku tidak yakin apakah kopi itu senikmat buatanmu.”
“Tentu saja aku tahu itu. Kenikmatan itu masalah selera. Kemiripan itu masalah cara. Tentu saja caraku berbeda dengan caramu. Itu bukan masalah besar, lebih baik cepat kau suguhkan kopi itu.”
Ia kembali memandang jendela. Sesekali dilihatnya wajah-wajah pembeli dan penjual sayuran di depan rumahnya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau mau membunuh salah satunya?”
“Tidak.”
“Kopimu. Bukankah kau ingin mencicipinya?”
Ia manarik napas panjang. Pandangannya kini tertuju pada cangkir putih di atas meja. Ia ambil, sesekali ditiup sekenanya. Sruuup. Ia meminum kopi pagi itu. Weak, Weak, ia memuntahkan kopi yang baru saja ia minum dan disimpanya kembali cangkir itu ditempat semula.
“Hey, Apa yang sedang kau lakukan?”
“Goblok. Baru saja aku memuntahkan kopimu.”
Ia memang ingin muntah sejak mengenal dirinya, dan suatu saat nanti ia berencana menyumbat mulutnya biar berhenti berbicara.
Friday, June 15, 2007
Lupa
penuh liuk diterpa gelombang pasang kota malam
pernah aku merasa kesulitan untuk bernafas
karena kehampaan yang menguak hampir habis dibawa kenyataan
Jakarta, Maret 2007
Secangkir kopi dan hari ini aku ingin bercinta
kehangatan belum harinya
terjaga dari mimpi percuma untuk dilanjutkan
tersuguh secangkir kopi dan ingatan masa lalu
aku benar-benar ingin bercinta dipagi buta
Selamat terjaga kekasihku,
apakah engkau merasakan pelukan semalam?
siapa dia?
karena sebelum hari baru sudah
aku masih saja di sini
sendiri
tak seorangpun
Tuesday, May 1, 2007
Anarkis di Jakarta
Saturday, April 28, 2007
Google Dot Braille
Logo google dot com yang satu ini benar-benar saya suka. Logo yang didedikasikan kepada Louis Braille, penemu "tulisan malam" untuk para Tunanetra. Louis Braille lahir pada tanggal 4 Januari 1808, yang kemudian diperingati secara Internasional sebagai Hari Braille. Untuk mengetahui lebih jauh siapa sosok Louis Braille, klik link Mitra Netra maka akan mengantarkan anda ke sana. Empathy, Respect, and Respect.



